‘WANITA TUA, SEMANGAT ANAK MUDA’
Dedeh, wanita paruh baya yang lahir di Sumedang 60 tahun lalu adalah wanita yang luar biasa bagi saya. Ia bukanlah seorang dosen, bukanlah seorang istri pengusaha, bukan juga seorang istri pejabat, ia hanyalah seorang penjual nasi kuning yang biasa mangkal di trotoar di jalan Lengkong Besar, ia ramah, dan selalu ceria.
Ceu dedeh, begitu ia akrab di panggil, kurang lebih telah 12 tahun lamanya ia menekuni usaha berjualan nasi kuningnya, bukan hanya sekedar nasi kuning saja, baru-baru ini ia juga menjual bubur ayam di gerobaknya itu. Rutinitas Dedeh dimuali kurang lebih pukul 10 siang, ia berbelanja kepasar untuk membeli perlengkapan dagangnya, lalu meracik bumbu-bumbu untuk memasak kira-kira sampai pukul 8 malam. Lalu ia tidur dan sekitar pukul 12 malam ia terbangun dan kembali mempersiapkan perlengkapan berjualannya. Sebelum memulai aktivitassnya di malam buta, tak lupa ia melaksanakan shallat sunah tahajud terlebih dahulu. Dedeh tak pernah mengeluh, ia selalu bersemangat untuk mencari nafkah, baginya berapapun hasil yang ia dapat nanti, itulah rejeki dari Allah yang harus ia syukuri.
Yang membuat saya kagum dari sosok ibu dedeh ini adalah semangatnya untuk mencari nafkah dan kedermawanannya kepada orang yang baru ia kenal sekalipun. Ia mempunyai 6 orang anak dan 4 diantaranya sudah berkeluarga, sedangkan yang duanya masih belum berumah tangga, tetapi semua anaknya sudah memiliki pekerjaan. Dengan semangatnya ia bisa berhasil merawat ke enam anak-anaknya dengan baik. Prinsip kehidupannya ia genggam erat, ia berprinsip bahwasannya meskipun semua anak-anak sudah memiliki penghasilan sendiri, ia tidak mau bermalas-malasan dan bergantung kepada anak-anaknya. Bahkan ia tetap memberikan sebagian hasil jualannya kepada anaknya yang masih tinggal serumah dengannya. “ Baginya, anak yang masih serumah dengannya, itu masih menjadi tanggung jawabnya. Di usianya yang tak muda lagi, wanita ini tetap semangat untuk bekerja. Hal lainnya yang membuat saya terkagum-kagum adalah kedermawanannya, ia mengisahkan, dulu ia pernah menolong salah seorang mahasiswa yang biasa berlangganan padanya. Ia memberikan pinjaman sejumlah uang pada mahasiswa tersebut sembari menunggu kiriman dari orang tuanya.
“Yeuh jang kapungkur mah aya nya murangkalih anu kuliah di UNPAS naminateh Ipan. Anjenateh seepen artos kanggo tuang saurnateh da teu acan di kintun ku sepuhna. Anjena nawisan Hp ka ibu, nyariosnamah bade di gadeken, ah da ibu teh rumaos sami gaduh murangkalih nya jang, ibu teh jadi teu tega, tos we ah ku ibu teh di pasihan artosna, Hpnamah teu di tampi, kahiji da ibumah teu tiasa nganggena, atu da nu kaduana ibu teh rumaos sami-sami gaduh murangkalih, janten engke dimana murangkalih ibu nuju jauh, supados sami-sami aya nu mikanyaah. Kitu ibu mah jang”.
Itu lah sepenggal kisah yang bisa saya ceritakan. Banyak sekali ilmu, banyak sekali motivasi yang bisa saya ambil dari ibu Dedeh. Wanita yang sudah tak muda lagi, tetapi ia tetap memiliki semangat layaknya anak muda, bahkan semangatnya melebihi saya sebagai anak muda. Dengan penghasilannya yang pas-pasan, ia tetap berusaha untuk berbagi dengan orang lain. Sungguh luar biasa.
0 komentar:
Posting Komentar